SEVENBOLA - Agen Bola ONLINE

Friday, August 31, 2018

Cerita Dewasa Tante Ngajak Ngentot Di Dapur

Cerita Dewasa Tante Ngajak Ngentot Di Dapur - Waktu ítu gua dí ajak temen gua buat líat hasíl lukísan yang dí bíkín temen gua ítu, cewe día dí bawah gua satu tahun se enggaknya gua seníor díanyalah… sewaktu gua tíba dí rumah día ada seorang waníta sexy, cantík, waaahh susah deh buat díomongín pokoknya top banget, lalu día senyum ama gua.“Eh Nít sapa tuh?” tanyaku.

Kami Agen Judi bola online menyediakan permainan sportbooks(bola), live casino, live game, slot, keno, number game, poker dan masih banyak permainan lainnya. kami menyediakan bonus deposit member baru sportbook 20% , bonus deposit member baru live casino 5%, bonus  referral seumur hidup dan masih banyak bonus. yuk segera bergabung bersama kami di www.ocewin.com.


“Oo Tante gua tuh Ndry kenapa? Suka?”..

“Yeeee enak aja loe,” jawabku.

“Yuk gua kenalín ama Tante gua,” ajak Níta.

“Aloo Tanteeee,” kata Níta.

“Ehh udah pulang Nít?” tanya Tante Císca.

“íya Tan,” jawab Níta..

“Oh íya Tan kenalín níh temen Níta”.. lalu Tante Císca mengulurkan tangannya begítu juga gua..

“Císca,” katanya.

“Andry,” kataku, waaahh tangannya lembut banget langsung otak gua jadí gak karuan untung Níta ngajak gua masuk kalo gak udah deh otak gua ngeres.

Sesudah gua liat hasíl lukísan sí Níta gua ngobrol-ngobrol ama Níta dan Tante Císca. Enak juga ngobrol ama tantenya Níta cepet akraban orangnya tapí setengah jam kemudían Níta pamít ke belakang dulu otomatís tínggal gua dan Tante Císca saja berdua. Tante Císca yang memakaí celana street dan kaos típís membuat jantungku mulaí gak karuan, tapí gua ngejaga supaya tídak ketauan kalo gua lagí merhatíín Tante Císca, kamí ngobrol ngalor-ngídul lama-lama duduknya semakín dekat denganku waaahhhh, makín dag díg dug aja níh jatung gua.. gímana enggak Tante Císca yang putíh mulus ítu duduknya ngangkang bebas banget píkírku apa día kagak malu ama gua apa? Lambat laun pembícaraan kamí mulaí menjurus ke hal-hal yang berbau sex.

Ndry kamu punya cewek?” tanyanya.

“Blom tan,” jawabku

“Tante sendiri kok sendirian …?”

“Hhhmm gak kok kan ada Nita.”

“Maksud saya laki-laki yang jagain Tante siang dan malem lho.”

“Ooooooo Tante cerai sama om 2 tahun yang lalu Ndry…”

“Tante gak kesepian..?”

“Tak tuh kan ada Nita.”

“Maksud saya yang nemenin Tante malem hari.”

“Ih kamu nakal yah.” kata Tante Cisca sambil mecubit pahaku.

Otomatis meringis kesakitan sambil tertawa… hehehhehee…

“Bener Tante gak kesepian?”, gua bertanya lagi.

Tante Cisca bukannya menjawab, dia malah memelukku sambil menciumiku, aku kaget campur seneng. Sewaktu kami bergumul di ruang depan tiba-tiba Nita dateng, untung tadi pintu yang mau ke dapur tertutup kalo ketauan Nita bahaya nih.. kami menghentikan pagutan kami.. lalu Tante Ciscapun pergi ke kamarnya sambil malu-malu. Setelah Nita datang gua langsung pamitan, lalu gua pamitan ama Tante Cisca.

“Tante, Andry pulang dulu,” kataku.

“Lho kok buru-buru?” tanya Tante Cisca sambil keluar kamar.

“Ada keperluan lain Tan,” jawabku.

“Lain kali ke sini lagi yah,” kata Tante Nita sambil mengerlingkan matanya.

“Ooooo iya Tante,” kataku sedikit kaget, tapi agak seneng juga.

Setelah kejadian itu gua jadi kangen ama Tante Cisca. Suatu hari gua lagi jalan sendirian di mall, gua gak nyangka kalo ketemu ama Tante Cisca.



“Allo Tante,” sapaku.

“Hi Andry,” jawabnya.

“Mau kemana Ndry.?”

“Hhhhmmm lagi pengen jalan aja Tante.”

“Kamu ada waktu.?”

“Kalo gak ada gak papa..”

“Emang mau ke mana Tan.?”

“Temenin Tante makan yuk..”

Waaaahhhhh… tawaran itu gak mungkin gua tolak jarang-jarang ada yang traktir gua, maklum gua anak kostan heueuehueuh. Tanpa berpikir panjang gua langsung mengiyakan tawarannya.

Setelah kami makan Tante Cisca ngajak gua keliling sekitar Bandung. Tanpa kita sadari kalo malam udah larut. Waktu itu jam menunjukkan pukul 22.30. Lalu gua ngajak Tante Cisca pulang, gua di anter ama Tante Cisca sampai depan rumah kostan gua. Tapi sebelum gua keluar dari mobil gua kaget campur seneng Tante Cisca menarik badan gua lalu menciumiku dengan ganas. Kami berpagutan lumayan lama. Lama-lama gua makin panas lalu gua ajak Tante Cisca masuk ke dalam kostan gua. Lalu kami masuk setelah di dalam Tante Cisca menubruk badan gua hingga kami berdua jatuh di atas kasur. Lalu kami beerciuman lagi.

Tiba-tiba tangan gua yang nakal mulai mengerayangi badan Tante Cisca yang sexy. Setelah itu gua buka tank top Tante Cisca. Wooowww ternyata dia tidak memakai BH itu membuat gua gampang buat menikmati indahnya payudara Tante Cisca yang indah itu. Tante Cisca mulai mengerang keenakan.

“Ooooooohhhh.. Andryyy.. remas terushhhh,” kata Tante Cisca mendesah.

Mendengar itu aku makin menggila.

“Gua gigit putting susu Tante Cisca…”

“Aaaccchhhhhh… enak sayang.. terussshhh…”

Lalu gua buka celana jeans Tante Cisca, sambil terus kupermainkan gundukan kembar itu dengan rakus setelah gua buka celana jeans tante Cisca, gua buka CD Tante Cisca yang berwarna hitam itu.

Ooooohhhhh indah betul pemandangan malam ini gumamku dalam hati. Lalu aku pun menyuruh Tante Cisca buat membuka pahanya lebar-lebar.

“Baik sayang. lakukan apa yang kau mau..”

Lalu gua benamkan muka gua ke selangkangan Tante Cisca.

“Aaaacccchhhhhhhh… geli sayang,” jerit Tante Cisca, badannya bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri menahan nikmat.

“Aaaaaccchhhhhhh terus sayang.. oooohhhhhhhh”

Gua jilat, gigit, jilat lagi hhhhmmmmmmm… memek Tante Cisca harum. Lalu tangan Tante Cisca mencari-cari sesuatu di balik celana dalamku.

“Wwoooooowwwww,” jeritnya.

“Aku gak percaya punyaan kamu gede Ndry…”

“Tante suka?” tanyaku.

“Suka banget..”

Lalu kupermainkan lagi memeknya, kami bermain 69 Tante Cisca melumat kontolku dengan rakusnya, sampai tiba saatnya dia mulai merengek-rengek supaya kontolku dimasukkan ke dalam liang memeknya.

“Ndryyyy.. sekarang sayang aku gak kuaatttthhh.!!!”

“Sekarang Tante..?”

“Iya sayang cepaaattt.”

Lalu gua menaiki badan Tante Cisca perlahan-lahan gua masukin kontol gua… oooooohhhhhh… sleeeepp perlahan-lahan kontolku pun kubenamkan.

Tante Cisca sedikit teria.

“Aaaaaccccchhhhhhh Ndryyyyy”.

Memek Tante Cisca masih sempit, hangat aahhh.. pokoknya enak banget…

“Masukin yang dalem Ndryy… oooohhhhhhh.!!!

“Goyangin Tante..”

Slepppp… sleppppp… sleeppppp.. kontolku keluar masuk.

“Ooohhhh…. ooohhhhhhh.. ooohhhhhhhh……” kami berpacu untuk mencapai klimaks dan akhirnya kami pun keluar sama-sama.

Setelah kami puas bercinta kamipun tertidur pulas dan bangun kesiangan untung waktu itu temen-temen sekostanku sedang mudik, jadi aku gak terlalu khawatir.

“Kamu hebat tadi malam Ndry sampe aku kewalahan” lalu Tante Cisca pun pamitan untuk pulang lalu dia berkata.

“Lain kali kita main lagi yah aku masih penasaran ama kamu Ndry”….

“Kalo kamu mau apa-apa bilang aja ama Tante ya jangan sungkan-sungkan!!”..



“Baik Tante,” kataku.

Lalu Tante Cisca pun pulang dengan wajah berseri-seri, setelah kami melakukan percintaan itu kamipun melakukannya berulang kali dan hubungan kamipun masih berlanjut hingga kini, tapi hubungan yang tanpa ikatan, hanya hubungan antara orang yang haus akan sex dan semenjak itu akupun diajari berbagai jurus dalam permainan sex, mulai dari doggy style sampai berbagai jurus yang sangat nikmat.

Setelah gua berhubungan dengan Tante Cisca kebutuhan akan sehari-hari gua lebih dari cukup apapun yang gua minta dari Tante Cisca dia pasti memberikannya, soalnya dia bilang permainan ranjangku hebat sekali dan adikku ini lumayan besar, katanya.. dan gua bisa ngebikin Tante Cisca puas. Selama kami berhubungan, Nita temanku itu dan sepupu Tante Cisca itu tidak pernah mengetahuinya, kalo dia tau berabe deh.. heheheheheheheh.

Cerita Dewasa Kenikmatan Bercinta Dengan 2 Wanita

Cerita Dewasa Kenikmatan Bercinta Dengan 2 Wanita - Saya berasal dari Tasikmalaya dan sudah 2 tahun menempuh kuliah di Jakarta. Di sini aku tinggal di sebuah rumah kost yang dihuni banyak mahasiswa perantauan sepertiku. Kisah ini bermula ketika aku sedang berbelanja ke sebuah mall di Jakarta. Aku tidak sendirian, tapi bersama 2 gadis teman kostku, mereka adalah Diana dan Sinta.

Kami Agen Judi bola online menyediakan permainan sportbooks(bola), live casino, live game, slot, keno, number game, poker dan masih banyak permainan lainnya. kami menyediakan bonus deposit member baru sportbook 20% , bonus deposit member baru live casino 5%, bonus  referral seumur hidup dan masih banyak bonus. yuk segera bergabung bersama kami di www.ocewin.com.

Keduanya cantik dan sama-sama warga keturunan sepertiku. Diana adalah seniorku semester akhir, sama2 jurusan manajemen denganku, sifatnya pendiam, banyak yang mengatakan dia judes karena jarang tersenyum, karena sifat tertutupnya inilah temannya cuma sedikit, tapi kalau sudah akrab ternyata orangnya baik dan menyenangkan. Dia sering membantuku dalam tugas2 kuliah. Hubungan kami seperti kakak adik, orangnya putih cantik, tinggi, rambut panjang, wajah oval dan bodinya ideal, kalau dilihat-lihat mirip dengan Vivian Hsu, sedangkan Sinta seangkatan denganku tapi dari fakultas psikologi, pacarnya adalah salah satu temanku yang sedang belajar di luar negeri, sifatnya periang dan humoris, kadang-kadang suka bercanda kelewatan, tingginya skitar 160 cm, bodinya langsing, berambut lurus sebahu, wajahnya putih licin dengan hidung mancung, dia dan aku termasuk beberapa dari segelintir orang yang dekat dengan Diana.

Malam itu langit sudah gelap kira2 jam 19:00, kami sudah selesai berbelanja dan sedang menuju tempat parkir bertingkat. Tempat itu sudah sepi dan gelap karena aku kebetulan parkir di tingkat agak atas jadi jarang ada kendaraan. Suasana di sana cukup menyeramkan hanya diterangi lampu remang-remang. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh 2 orang preman berpenampilan sangar yang menghadang jalan kami.

“Hei babi, tunggu dulu kalau mau lewat serahin dulu duit yang kalian punya, ayoooo!!!!” kata yang kurus gondrong itu.“Wah gile bawa cewek juga nih dia, cakep-cakep lagi, eh cewek mau main sama kita nggak!” timpal temannya yang berambut cepak. Aku segera bergerak menepis tangan si cepak ketika hendak mengelus pipi Diana yang tampak ketakutan.“Hei, hei.. kalau mau duit gua ada tapi jangan macam-macan sama temanku!” bentakku padanya.Rupanya mereka tidak terima dan si gondrong mengeluarkan pisau lipatnya dan menyerang ke arahku, aku menghindar dan menangkap pergelangan tangannya, kupuntir dengan jurus aikido yang kupelajari sejak SMA, “Ci Diana, Sinta, cepat masuk ke mobil dan lari, jangan tunggu gua!” seruku pada mereka seraya memberi kunci mobil pada Diana, mereka segera masuk ke mobil dan kudengar mesin sudah dinyalakan tapi bukannya lari malah menungguku.

“Heh bangsat, mau jadi jagoan loe, ayo kita hajar dia dulu Wan baru kita kerjain cewek2nya,” kata yang gondrong pada temannya. Si cepak menerjang ke arahku tapi kutendang perutnya sampai terhuyung-huyung ke belakang.“Ayo masih berani maju?” tantangku dengan memasang kuda-kuda. Yang cepak itu masih belum kapok, dia mengeluarkan pisaunya dan mencoba menusukku, kami sempat terlibat pertarungan seperti dalam film-film action. Tanganku sempat tersabet pisau dan membuat luka gores sepanjang kira-kira 10 cm, namun aku berhasil merebut pisau si gondrong dan kupatahkan pergelangan tangannya, sementara yang cepak terkena tinjuku pada mulutnya sehingga terlihat darah pada bibirnya.

Sebenarnya aku mulai kewalahan tapi aku mencoba tetap tenang dengan menggertak mereka dengan pisau yang kurebut sambil berdoa dalam hati, kami terdiam sesaat lalu mereka perlahan-lahan mundur, membalikkan badan dan kabur entah kemana, akhirnya berguna juga ilmu bela diri yang kupelajari selama ini. Aku segera masuk mobil, kusuruh Diana segera tancap gas, dengan wajah masih tampak tegang dia segera menjalankan mobil dan keluar dari situ.

Sinta berkata padaku, “Ihh tangan kamu berdarah tuh, kamu nggak apa-apa?”. Sinta membantu mengobati lukaku dengan peralatan P3K di mobilku.“Leo, kamu nggak apa-apa, kita ke rumah sakit ya,” sambung Diana.“Ah nggak usah kok cuma luka gores aja, nggak sampai kena tulang lagi, tinggal diobatin dan diperban sendiri aja, kalian tenang sajalah, harusnya gua yang terima kasih pada kalian, kalian sudah gua suruh kabur dulu tapi malahan nungguin, kalau gua kalah tadi gimana coba!”“Leo, kamu masih anggap Cici ini temanmu nggak sih, kamu pikir kita tega ninggalin kamu sendirian kayak gitu!” kata Diana dengan ketus dan menatap tajam ke arahku.“Udah Ci, lagi nyetir jangan marah-marah, Leo kan tadi kuatir keselamatan kita juga, uuhh.. kamu sih asal omong!” Sinta mencoba menenangkan sambil menyikut dadaku, aku diam saja daripada ribut sama cewek, bukannya takut tapi bikin pusing apalagi mendengar omelan Sinta kalau lagi bawel.



Sesampainya di kost, aku menyuruh mereka istirahat saja supaya tenang, aku sendiri segera masuk kamar. Kira-kira jam 9 malam, aku sedang membaca tabloid Bola, pintuku diketuk, ternyata yang datang Diana dan Sinta yang sudah memakai pakaian tidur.“Loh, ngapain kalian berdua ke sini malam-malam begini?”
tanyaku.“Kita cuma mau berterima kasih barusan itu, kamu tadi hebat banget deh Le, mirip Jet Lee aja aksinya,” puji Sinta dengan tersenyum.“Boleh kami masuk, ngobrol-ngobrol sebentar?” tanya Diana.Akhirnya kupersilakan mereka masuk juga mumpung belum ada yang lihat.

“Gimana lukamu Le, sori banget ya demi kita kamu jadi gini, kalo nggak ada kamu nggak tau deh gimana nasib kami,” kata Sinta sambil memegangi lenganku yang sudah diperban.“Ah luka kecil, nggak lama juga sembuh kok, kalian tenang deh.”“Le, kamu hebat deh tadi, makannya kita ke sini rencananya mau membalas budi nih, kami ada hadiah kecil buat kamu,” sahut Diana.“Oh, nggak usah Ci, kita kan temen kok pake hadiah-hadiahan segala.”“Eee, harus diterima lho kalo nggak gua nggak mau omong sama kamu lagi nih!” sambung Sinta setengah memaksa.“Ya, iya deh, aku terima aja biar kalian puas, makasih loh.”“Tapi loe tutup mata yah, soalnya ini surprise loh,” katanya lagi.“Wah, apa sih pake rahasia segala, ya udah deh, gua merem nih,” kataku.Aku bersandar di ranjang sambil memejamkan mata, kudengar suara tirai ditutup dan Diana berkata, “Awas jangan ngintip ya, ntar batal loh hadiahnya!” disambung dengan suara Sinta ketawa cekikikan.

Akhirnya aku merasakan salah seorang duduk di sampingku dan meraih tanganku.“Sudah siap?” ternyata suara Diana.“Sudah, boleh buka mata belum Ci?”“Tunggu bentar lagi.” jawabnya.Tanganku disentuh & diusapkan pada suatu benda kenyal olehnya. Betapa kagetnya aku ketika meraba benda itu ternyata adalah payudara wanita. Segera kubuka mata dan benar saja, Diana duduk di samping kiriku tanpa sehelai benangpun dan menumpangkan tanganku di payudaranya, sementara Sinta yang juga sudah polos mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu meja sehingga suasana menjadi remang-remang.

“Nah kalo gini kan jadi romantis suasananya.” katanya.Benar-benar kaget bercampur terangsang aku saat itu, aku baru pertama kalinya melihat mereka polos. Tubuh Diana ternyata benar-benar aduhai, perut rata, paha jenjang yang mulus, bulu kemaluan yang rapi dan lebat, dan payudaranya lumayan besar dan kencang, benar-benar mirip dengan Vivian Hsu yang sering kulihat gambar-gambar bugilnya. Tubuh Sinta tidak kalah menarik walaupun payudaranya tidak sebesar Diana, mungkin hanya 34 dengan puting merah muda dengan bulu kemaluan yang lebat pula.

“Loh, kok.. kok begini sih, terima kasihnya kelewatan deh kayaknya,” kataku sedikit gagap dan jantungku berdebar kencang karena aku belum pernah main dengan perempuan lain selain pacarku sendiri.“Tidak Le, kamu memang pantas menerimanya, jadi hutang budi ini impas,” jawab Diana lalu dia membuka ikat rambutnya sehingga rambut panjangnya tergerai bebas sedada.“Wah, Ci liat, mukanya merah tuh, dia malu sama kita kali,” kata Sinta sambil tertawa.“Nggak usah malu Le, kita kan temen dekat bukan orang lain,” kata Diana seraya membelai pipiku dan mencium bibirku. Imanku langsung runtuh karena perlakuan mereka, begitu bibirnya menempel di bibirku segera kusambut dengan tarian lidahku di mulutnya, lidah kami saling beradu dengan penuh nafsu, tanganku sudah mulai memijat-mijat buah dadanya dan mulai turun meraba-raba paha mulusnya naik lagi ke kemaluannya dan kuberikan sentuhan halus pada klistorisnya.

Diana yang biasanya pendiam dan lemah lembut itu, malam itu begitu liar & penuh nafsu jauh dari yang sehari-hari. Sinta tidak tinggal diam, dia memelorotkan celana trainingku dan CD-ku sehingga barangku yang sudah tegang menyembul keluar. “Wah besar juga nih, pantes si Vivi betah sama lu Le,” godanya. Dijilatinya senjataku dengan penuh nafsu, lalu dimasukkan ke mulutnya dan diemut-emut seperti seperti permen lolipop. Sementara ciumanku pada Diana sudah mulai turun ke dagunya, lalu ke leher. Kusibakkan rambut panjangnya ke samping kiri lalu kujilat-jilat leher kanannya, kugigit pelan sambil menyapunya dengan lidahku. Nafas Diana sudah mulai kacau matanya terpejam sambil mendesah dan meremas-remas rambutku, aku sendiri merasakan sensasi hebat pada batanganku yang sedang dikulum Sinta, baru pertama kalinya kurasakan kenikmatan bercinta dengan dua wanita.

Tanganku mulai naik dari kemaluannya menuju dadanya dan lidahku turun menuju sasaran yang sama, akhirnya kutangkap dada kanannya dengan tanganku dan dada kirinya dengan mulutku, disaat yang sama juga tangan kiriku mengelus-elus pantatnya yang indah itu. Puting yang ranum itu kusedot dan kutarik-tarik dengan mulutku dan dada kanannya kuremas-remas sambil memencet putingnya.

Setelah beberapa saat kurasakan barangku mau meledak karena kuluman Sinta.“Sin, Sin udah stop dulu.. gua udah nggak tahan nih!” kataku terbata-bata.Akhirnya dia menghentikan kegiatannya dan berkata, “Lu gitu ah, masa mainnya sama Ci Diana terus, kamu nggak suka Sinta ya, ntar gua bilangin loh ke Ko Hendy (pacar Diana) biar digebuk hehehe..”“Sori dong Sin, abis kan tadi Ci Diana yang mulai dulu, jadi dia yang duluan dapet.”“Ya udah, biar adil kita undi saja siapa yang lebih dulu melayani Leo, gimana Sin?” Diana memberi usul. Mereka berdua suit dan yang menang adalah Diana.

“Yah, Sinta kalah, ya udah Cici duluan deh, jahat ah!” kata Sinta mencibir pada Diana.“Tenang Sin kamu juga ntar kebagian kok, Leo kan kuat, ya nggak,” kata Diana sambil melirik padaku. Kini Diana berbaring terlentang di ranjang dan Sinta duduk di tepi ranjang menunggu. Kuciumi sekujur tubuhnya mulai dari bibir dan sesampainya di kemaluan, kuangkat kedua kakinya ke bahuku sampai tubuhnya setengah terangkat lalu kudekatkan wajahku ke pangkal pahanya. Bulu-bulu lebat itu kusibakkan dengan jariku dan kujilati belahan di tengahnya. Lidahku bermain-main dengan ganas di daerah itu membuat tubuh Diana mengelinjang-gelinjang disertai suara-suara rintihannya. Tidak kuhiraukan lagi bahwa gadis ini sebenarnya adalah seniorku dan kuanggap kakak angkatku yang harusnya kuhormati, yang terpikir saat itu hanyalah nafsu dan nafsu yang makin membara.

Mendadak kurasakan sebuah tangan dengan jari-jarinya yang lembut menggenggam batang kemaluanku yang nganggur. Pemilik tangan lembut itu adalah Sinta yang tidak tahan hanya menjadi penonton. Dikocoknya batang kejantananku lalu dimasukkan ke mulutnya dan diemut-emut, sementara lidahku terus bekerja di liang kewanitaan Diana, tanganku membuka bibir kemaluan yang rapat itu sampai kulihat tonjolan kecil di tengahnya, dan kumasukkan lidahku lebih dalam lagi agar bisa menjilat benda itu. Rintihan Diana makin menjadi-jadi sambil meremas-remas sprei dan Sinta berpindah menciumi payudara Diana.

Sesaat kemudian kedua paha Diana mulai menjepit kepalaku, badannya tertekuk ke atas. “Oh, Leo.. akhh.. ah!” Erangan itu diiringi menyemburnya cairan hangat berwarna bening membasahi mulutku, setelah itu kuturunkan badannya dan Sinta membantuku menjilati cairan yang masih tersisa di kemaluan Diana sampai bersih, tubuh Diana mulai melemas kembali.

“Leo, kamu waktu main sama Vivi juga seperti ini ya, permainanmu bagus sekali,” puji Diana padaku.“Ah biasa aja kok Ci,” sahutku sambil memiringkan tubuhnya dan kuarahkan batangku ke lubang yang sudah basah itu. Sedikit demi sedikit batang itu mulai tertancap di lubang itu diikuti desisan Diana sampai akhirnya dengan susah payah akhirnya mentok juga batangku di kemaluannya yang sempit itu. Setelah itu aku mulai memacu badanku maju mundur sambil meremas-remas payudaraya dan Sinta menjulurkan lidahnya untuk beradu dengan lidahku. Sungguh nikmat sekali rasanya menikmati pijatan-pijatan dinding liang kewanitaan Diana sambil memijat payudaranya dan bermain lidah dengan Sinta, sekali-sekali Sinta juga menjilati leher dan telingaku. Benar-benar aku merasakan diriku bagaikan seorang kaisar yang sedang dilayani selir-selirku saat itu.



Beberapa saat kemudian aku merasa mau keluar dan berkata, “Ci, mau keluar sebentar lagi nih.”“Siram di mulut.. ohh.. ahh.. di mulut Cici!” katanya lirih.Akhirnya kami klimaks bersama dan kusuruh dia membuka mulut untuk menyemprot spermaku. Cairan putih kental membanjiri mulutnya sampai menetes di sekitar bibirnya, Sinta pun ikut menjilati spermaku yang masih berlepotan di batangku. Diana sekarang tergolek lemas dengan sisa-sisa sperma masih membekas di bibir, dagu, dan lehernya, sesudah mengatur nafas dia tersenyum padaku dan berkata, “Bisa-bisa besok pagi Cici nggak bisa kuliah gara-gara kecapean nih,” jarang-jarang dia tersenyum begitu, padahal wajahnya semakin manis kalau lagi senyum. “Sama Ci, saya juga gitu mungkin, sekarang Cici istirahat aja dulu deh, Sinta udah nggak sabar nih,” jawabku sambil merengkuh tubuh Sinta dalam pelukanku.

“Sin, biarin Cici istirahat di ranjang dulu ya, kita mainnya di tempat lain dulu, oke..”“Ya terserah kamu deh, asal jangan di luar kamar, kan malu,” katanya sambil memencet hidungku dengan nakal.“Ya, iyalah masa di luar sih, dasar cewek sableng,” kataku sambil membantunya berdiri.

Kami berdiri berhadapan saling peluk tanpa mengenakan selembar benangpun, kutatap wajah dan matanya dalam-dalam, semakin dilihat semakin cantik. Kurapatkan dia ke tembok, kukecup keningnya merambat ke telinganya dimana aku berbisik, “Sin, kamu pernah melakukan ini pada siapa saja?”“Baru loe, Andry, dan bekas pacar gua di SMA, loe sendiri gimana Le, gua ini cewek keberapa yang luperlakukan begini?”Aku terdiam sesaat lalu kujawab, “Selain Vivi dan Ci Diana mungkin kamu yang ketiga dan terakhir bagiku Sin.”“Kenapa loe bilang aku yang terakhir Le?”“Ya, karena aku sudah berdosa pada Vivi, aku tidak mau menambahnya lagi.”“Hihihi, ternyata masih ada juga pria lugu seperti kamu Le.”Lalu dia berkata di dekat telingaku, “Jadi loe belum bisa membedakan antara seks dan cinta,” habis menyelesaikan kata-kata dia langsung mengulum telingaku dan kubalas dengan meraba punggung mulus dan pantatnya.

Kami saling raba bagian-bagian sensitif selama beberapa saat dan kini kuangkat kaki kanannya masih dalam posisi berdiri dengan bersandar di tembok. Pelan-pelan kumasukkan batang kemaluanku ke liang yang sudah becek itu, benar-benar sempit milik Sinta ini, lebih sempit dari Diana sehingga dia meringis kesakitan sambil mempererat cengkramannya di pundakku saat kumasukkan batangku.“Aduhh.. ahh.. pelan-pelan Le, sakit.. ahh..!” Sedikit demi sedikit batangku sudah masuk setengahnya.Kuhentikan gerakanku sejenak sambil berkata, “Sin, kamu siap?”“Siap apaan sih.. aawww..sakitt!” jeritnya. Sebab saat dia bilang ’sih’ kuhujamkan sekuat tenaga sisa batangku yang belum masuk sampai mentok dan kurasakan kepala batang kejantananku menghantam dasar kemaluannya dengan kuat sehingga tubuhnya tersentak dan matanya membelakak kaget, telapak tanganku sudah kusiapkan di belakang kepalanya agar ketika terkejut kepalanya tidak membentur tembok.

“Jahat loe, bikin kaget gua aja,” tanpa banyak bicara lagi kugerakkan pantatku maju mundur membuatnya mengerang-erang setiap kusentakkan tubuhku ke depan. Dadaku saling bergesekan dengan dadanya. Sambil terus menggenjot kuciumi terus bibirnya sehingga erangannya tertahan, yang terdengar hanya suara, “Emmhh.. emmhh.. emhmm..”

Beberapa saat kemudian tubuhnya kurasakan seperti menggigil dan dia mempererat pelukannya, demikian juga aku makin erat memeluknya sampai kurasakan hangat pada batang kejantananku disusul keluarnya cairan bening dari liang senggama Sinta, cairan itu mengalir deras dari sumbernya terus turun ke pahanya dan sampai ke ujung kakinya. Perlahan-lahan gerakanku melemah dan akhirnya berhenti, kuturunkan kakinya dan kulepaskan batangku yang masih menancap di kemaluannya. Tubuh Sinta yang sudah basah kuyup oleh keringat melemas kembali dan merosot sampai terduduk di lantai, keringat di punggungnya membasahi tembok di belakangnya. Kuambil tisu lalu kubersihkan cairan kenikmatan yang mengalir membasahi tungkainya.

Kami berdua terdiam sesaat memulihkan tenaga kami yang terkuras. Setelah kurasa segar kembali kuperhatikan dia yang masih terduduk lemas di lantai dengan kaki kiri ditekuk, mataku terpaku mengagumi keindahan tubuhnya membuat gairahku bangkit kembali. “Ngapain sih loe, serem amat melototin gua kaya gitu,” katanya sambil menyilangkan kedua tangan menutupi dadanya. Tanpa menjawabnya kutarik lengannya lalu kubuat posisinya berdiri membelakangiku dengan kedua tangannya bertumpu di pinggir meja belajarku. “Aduh.. tunggu dulu Le, gua masih capek, loe jahat ih!”

Dengan segera kubasahi batang kejantananku dengan ludah lalu kumasukkan ke lubang pantatnya dengan paksa dan kuhentakkan biasa saja tapi dia malah menjerit histeris, “Awww.. sakit, toloongg!” Jeritannya ini sempat membuatku kaget juga karena kencang sekali, aku takut sampai mengundang perhatian tetangga sebelahku, untungnya lokasi kamarku ini agak di ujung namun jeritannya tadi cukup luar biasa. Aku melepaskan sebentar tusukanku dan mengintip dari jendela apakah ada yang datang ke sini, lega aku melihat koridor masih sepi tanpa suara dan kamar sebelahku juga sudah gelap, kurasa dia sudah terlelap.

Kudekati Sinta masih tetap dalam posisinya. “Aduh Sin, itu suara tolong dikecilin dong volumenya, gawat nih kalo ada yang tau, pake tolong segala lagi, bisa-bisa dikira ada pembunuhan.”Dasar cewek bandel, dia malah sambil tertawa berkata, “Lucu tampang kamu lagi panik Le, masa kamu lupa si Ferry tetangga sebelah loe kan lagi pulang makanya gua kagetin loe, ini balasan waktu tadi ngagetin gua (ketika posisi berdiri), jadi kita seri hihihi!”“Ooo jadi loe sengaja ya, awas loe ayo sini tunggu ya balasan gua ntar!” kataku.

menghampirinya. Dia malah berkelit sambil berlari kecil.“Wek, sini tangkep kalo bisa,” ejeknya dengan menjulurkan lidah.“Cewek bandel, awas kalo kena ya!”“Lho kalian lagi ngapain, kok kayak anak kecil aja sih, dari tadi ribut terus,” kata Diana yang sudah bangun.“Ini Ci, gua lagi kasih pelajaran buat si bandel nih.”
Akhirnya kutangkap setelah dia terdesak di lemari pakaianku di sudut ruangan, kupeluk dia dari belakang, “Nah ketangkep loe sekarang, mau ke mana lagi.”“Hihihi Leo ampun ah, jangan kasar-kasar!” dia masih tertawa-tawa ketika itu, lalu aku membuat posisinya seperti tadi lagi, kini kedua tangannya yang bertumpu pada lemari.“Sekarang tau rasa nih balesan gua!” kataku dengan senyum penuh kemenangan.Kutuntun batang kejantananku memasuki lubang pantatnya yang sempit, sedikit demi sedikit akhirnya amblas seluruhnya.

Waktu kumasukkan suara tawanya perlahan-lahan berubah menjadi suara rintihan, senyumnya sirna berganti menjadi ekspresi kesakitan, “Hi.. hi.. hi.. Leo udah ah, lepasin ah.. ahh.. jangan.. ahh.. sakit..!” Mendengar rintihan tak karuan itu nafsuku semakin bangkit, pinggulku segera bergerak maju mundur dengan ganas. Dasar sifatnya bawel, waktu bertempurpun dia masih sempat berceloteh sambil merintih, “Akhh.. kamu.. sadis.. ah.. ntar gua mau.. ohh.. lapor.. aakhh.. sama.. sama Vivi.. ahh!”

Pinggulnya ikut berpacu menyelaraskan dengan gerakanku, yang paling enak adalah saat sentakan kita saling berlawanan arah sehingga menambah tenaga tusukanku agar menancap lebih dalam, bila sudah begitu selalu histeris tapi tidak sehisteris waktu mengagetkanku tadi. Payudaranya juga ikut berayun-ayun kesana kemari, kedua putingnya kutangkap dengan jariku, kupuntir, kutarik, dan kupencet tanpa menyentuh dadanya, aku sengaja berbuat begitu agar dia penasaran dan memohon padaku. Benar saja perkiraanku setelah beberapa lama kumainkan putingnya tanpa menyentuh dadanya dia mulai memohon.“Le.. ahh.. kamu kok.. oohh.. cuma mainin.. aahh putingnya.. remas dadaku Le.. please!”“Hehehe.. gua kan udah janji mau ngebales loe tadi, tunggu aja sampai saatnya nanti Sin, hehehe,” jawabku sambil tetap menggenjot lalu tangan kiriku menjambak rambutnya hingga kepalanya menengadah ke atas.“Aaawww.. kamu.. kamu.. ahh.. jahat.. kasar.. awas ya nanti!” Puas hatiku menyiksa si bandel ini hingga tak berkutik memohon-mohon padaku. Menurutku bercinta dengannya lebih enak daripada Diana yang agak pasif, Sinta cukup pintar mengimbangi gerakan-gerakanku, staminanya pun lebih baik sedangkan Diana belum apa-apa sudah takluk, maklum Sinta ini orangnya rajin fitness.

“Uaah.. mau keluar Sin!” jeritku ketika mau mencapai puncak.“Gua juga.. aahh.. ayo perdalam lagi.. ouchh!”“Uahh..” begitu spermaku muncrat aku langsung berteriak dan meremas kedua buah dada Sinta dengan keras disusul pula oleh jeritannya.“Aaakkhh sakiitt.. eenakk..!” Tanpa melepas batang kejantananku , kepalaku menyelinap ke balik ketiak kirinya, sasaranku adalah puting susu yang ranum itu. Mulutku menangkap benda itu lalu kusedot dengan gemas sementara tanganku masih meremas buah dadanya. Kubalikkan tubuhnya hingga kami saling berdiri berhadapan. “Sin, kamu nggak menyesal melakukannya padaku?” tanyaku, dia hanya menggeleng dengan nafas yang masih memburu, tubuhnya licin mengkilap karena berkeringat. “Le gua capek berdiri terus, bantu gua ke ranjang dong,” pintanya. Maka kugendong dia ke ranjang dengan kedua tanganku sambil bercumbu mesra, kubaringkan dia di sebelah Diana yang sudah bangun, lalu aku duduk di tepi ranjang karena ranjangku tidak cukup berbaring 3 orang.



“Wuiih main sama Sinta ribut banget, sori ya ngebangunin Cici nih,” kataku pada Diana.“Eee.. loe yang sadis kok masih nyalahin gua, awas ya!” kata Sinta sambil menangkap kemaluanku dan menggenggamnya erat.“Idiih.. idihh.. gitu ya, lepasin Sin malu tuh diliatin Ci Diana!”“Minta ampun dulu, kalo nggak kagak bakalan gua lepas nih!”“Iya, sori.. sori deh yang mulia putri, sekarang lepas dong!” gila bukannya dilepas malahan dijilatinya batang kejantananku yang masih ada sisa-sisa sperma dan cairannya itu.“Kalian kok berantem melulu sih, lucu ah!” kata Diana lalu dia mendekati kami dan ikut menjilati batang kejantananku. Aku jadi merem melek keenakan menikmati permainan mulut mereka sambil mengelus-elus rambut indah Diana.

Aku lalu menyandarkan badanku di ujung ranjang agar lebih nyaman, kedua gadis cantik ini kini berada di depanku sedang mempermainkan kemaluanku. Jilatan demi jilatan, emutan demi emutan membuatku menyemburkan kembali maniku namun kali ini sudah tidak banyak lagi yang keluar akibat terkuras pada ronde-ronde sebelumnya. Dengan rakusnya mereka berebutan melahap cairan putih itu sampai habis bersih, pada bibir-bibir mungil itu masih terlihat percikan spermaku.

Mereka lalu menyuruhku telentang di ranjang, aku tidak tahu mereka mau apa lagi tapi kuturuti saja. Diana lalu naik ke atas kemaluanku dan memasukkan batang itu hingga terbenam dalam kemaluannya, kemudian dia mulai bergoyang-goyang naik turun seperti naik kuda. Sinta naik ke atas wajahku berhadapan dengan Diana dan menyuruhku agar menjilati kemaluannya. Sambil kuelus-elus pantat yang mulus itu, lidahku menjelajahi liang kemaluannya, gerakan lidahku bervariasi dari berputar-putar membuat lingkaran, mempermainkan klitorisnya, menggigit lembut klistorisnya, menusukkan jari tengahku sampai mendorong-dorongkan lidahku ke liang itu.

Tanganku bargantian memijati kedua payudara Sinta dan mengelus paha serta pantatnya, suatu ketika kuraba payudaranya, tanganku juga bertemu tangan Diana di situ, jadi masing-masing payudara Sinta dipijati 2 tangan. Suara desahan mereka berdua memenuhi kamarku, terkadang suara itu berubah menjadi, “Emhh.. emhh.. emhh!” sepertinya itu suara mereka berdua sedang berciuman sehingga desahannya terhambat, aku tidak tahu persis karena waktu itu pandanganku tertutup tubuh Sinta.

Goyangan pinggul Sinta bertambah dahsyat ditambah lagi jepitan pahanya terkadang mengencang membuatku agak kewalahan mengatasinya, sementara Diana yang tidak kalah gilanya makin mempercepat gerakannya sehingga terasa sedikit sakit pada buah pelirku akibat tindihannya.

Aku pun tak mau kalah, kubalas dengan menggerakkan pinggulku, kurasakan batang kejantananku sudah terasa licin dan hangat oleh cairan yang keluar dari liang kewanitaannya, bersamaan dengan itu terdengarlah jeritan histeris Diana yang tidak lama sesudahnya disusul erangan Sinta dan tetesan cairan kenikmatannya ke wajahku. Tubuh keduanya mengejang di atas tubuhku selama beberapa saat, kurasakan goyangan Diana mulai melemah sampai akhirnya berhenti, Sinta turun dari wajahku dan langsung menjatuhkan diri di sampingku. Kulihat tampang Diana sudah kusut, rambut panjangnya berantakan sampai menutupi sebagian wajahnya dan tubuhnya sudah bermandikan keringat, dia jatuh telungkup di atasku, payudaranya menindih dadaku, empuk dan nikmat sekali rasanya, lebih enak dari ditindih bantal bulu angsa sekalipun.



Begitu w bahkan Diana, gadis bagaikan gunung es itu sudah tidak perawan lagi, tapi aku tidak peduli soal itu yang penting kenikmatan yang kudapat waktu itu sangat hebat, lagipula liang kemaluan mereka masih sempit karena menurut pengakuan mereka jarang melakukannya karena pacar mereka tinggal terpisah jadi jarang bertemu. Gara-gara permainan liar malam itu besok paginya aku tidak ikut kuliah jam 7 karena tubuhku pegal-pegal terutama bagian pinggang seperti mau copot rasanya, kumatikan wekerku dan meneruskan tidur sampai jam 10.00 ketika si bandel Sinta menggedor pintuku, “Wei.. wei.. bangun pemalas, semalam ngapain aja loe!”

Cerita Dewasa Pengalaman Gigolo Ku Dengan Banyak Tante

Cerita Dewasa Pengalaman Gigolo Ku Dengan Banyak Tante - Kisah ini berawal dari nafsuku yang boleh dibilang ugal-ugalan.Bagaimana tidak, disaat usiaku yang mencapai 29 tahun, sekarang iniinginnya /ML/ (bersetubuh) terus tiap hari dengan istriku (inginnya 3 kali sehari). Dan para netters duga, pasti seorang istri tidak hanya menginginkan kepuasan seksual setiap waktu, akan tetapi juga kerja mengurus rumah lah, mengurus anak lah dan lain-lain banyaknya. Sehingga nyaris istriku juga sering keberatan kalau tiap malam bersetubuh terus, dan aku juga kasihan padanya.



Setiap kali bercinta, istriku bisa 3 kadang 4 kali orgasme dan aku sendiri kadang tidak ejakulasi sama sekali karena istriku keburu lelah duluan. Paling setelah istriku tertidur pulas kelelahan, aku langsung pindah ke meja kerjaku dan menyalakan PC, lalu memutar /Blue Film/ dan aku lanjutkan dengan /self service/. Setelah puas, aku baru menyusul istriku yang tertidur, dan jika tengah malam aku terjaga dan kudapati “pusakaku” berdiri, aku ulangi lagi hingga aku benar-benar lelah dan tertidur.

Aku sendiri sangat bergairah apabila melihat tante-tante yang umumnya mereka lebih dewasa, lebih pintar dan telaten dalam urusan ranjang. Bahkan aku dalam melakukan onani sering membayangkan dengan tante-tante tetanggaku yang umumnya genit-genit. Begitu hingga suatu saat, aku mendapat pengalaman bercinta yang amat berkesan dalam sejarah kehidupan seksualku.Ceritanya berawal pada saat temanku mengajak karaoke di kawasan wisata prigen dan sebelumnya aku belum pernah masuk ke kawasan semacam itu. Kami bertiga pesan ruang utama yang mempunyai pintu sendiri dan ruangan itu terpisah dengan yang lainnya selama tiga jam penuh.

“Eh, Eko emangnya Elo udah booking cewek untuk nemenin Kita..?” tanyaku pada Eko, salah seorang dari kawanku.
“Sabaarr Boss, entar Adi juga bawain tuh cewek..” tukasnya.

Sepuluh menit kemudian, saat aku akan menyulut Djarum 76-ku, merapatlah sebuah Kijang dan Civic Wonder berjejeran ke hadapanku dan Eko. Kalau Kijang itu aku kenal, itu adalah Kijang-nya si Adi dan keluar dua orang


ABG yang berdandan Ahooyy. Berdesir darah lelakiku melihat dua orang ABG itu. Bagaimana tidak, pakainnya super ketat dan sangat menonjolkan bukit-bukit indah di dada dan pantatnya. Akan tetapi, aku tidak kenal dengan Civic itu. Aku melihat di dalamnya ada seorang cewek ABG dan seorang lagi wanita sekitar 35 tahun (menurut taksiranku dari raut wajahnya).

Eko yang rupanya kenal baik dengan kedua wanita itu langsung menyambut dan membukakan pintu, lantas memperkenalkannya kepadaku.

“Lisa..” seru tante itu disambut uluran tangannya padaku.
“Inneke..” sahut gadis manis disampingnya.

Singkat cerita, kami sudah mulai bernyanyi, berjoget dan minum-minum bersama, entah sudah berapa keping VCD Blue Dangdut yang kami putar. Aku melihat Eko dan Adi mulai mendekati sudut ruangan, dan entah sudah berapa lama ceweknya orgasme karena oral yang mereka lakukan. Sementara aku sendiri agak kaku dengan Lisa dan Inneke. Kami pun tetap bernyanyi-nyanyi, meskipun syairnya awur-awuran karena desakan birahi akibat pertunjukan BF di depan kami.

Aku sendiri duduk di dekat Lisa, sementara Inneke serius menyanyikan lagu-lagu itu. Tante Lisa sendiri sudah habis satu Pak A-mild-nya, sementara aku melihat wajah Inneke yang merah padam dan kadang nafasnya terengah pelan karena menahan gejolak yang ia saksikan di layar 29 inch itu. Tiba giliranku untuk mengambil /mike/ dari Inneke, aku bangkit mengambil mike itu dari tangan Inneke dan mengambil duduk di antara Inneke dan Lisa. Pengaruh minumanku dan XTC yang mereka telan membuat kami jatuh dalam alunan suasana birahi itu.

“Boy.., I want your sperm tonight Honey..” bisik Lisa lirih di telingaku, sementara tangan kirinya meraba selangkanganku.

Inneke yang sudah meletakkan /pet aqua/-nya mengambil sikap yang sama padaku. Dia malah mulai memainkan ujung lidahnya di telinga. Hangat nafas dan harum kedua wanita itu membuatku terbuai dalam alunan melodi birahi yang sudah aku rasakan menjalar menelusuri selangkanganku. Perlahan namun pasti, kejantananku menegak dan kencang, sehingga /Lee Cooper/-ku rasanya tidak muat lagi, apalagi saat meneganggnya salah jalur dan sedikit melenceng.

“Lho kok.. bengkok punyamu Say..?” tanya Lisa padaku pura-pura seperti seorang amatiran saja.

Belum sempat aku menjawab, buru-buru Inneke membuka zipper dan CD-ku, lantas mengeluarkan isinya.

“Gini lho Tan.. mintanya dilurusin, Mas Boy ini..” kata Inneke diikuti penundukkan kepalanya ke arah selangkanganku.

“Aaakkhh..” pekikku tertahan saat Inneke spontan mulai mengulum kepala penisku ke dalam mulutnya dikombinaksikan dengan sedotan dan jilatan melingkar lidah.

Spotan kedua kakiku menegang dan membuka lebih lebar lagi untuk memudahkan oral Ineke.

“Oookh My Godd.. sshh.. aakk..” desahku.

Seluruh tubuhku bergetar dan terasa disedot seluruh sumsun tulangku lewat lubang penisku. Permainan Inneke betul-betul professional, sampai-sampai dentuman musik itu sepertinya tidak kudengar lagi, karena telingaku juga berdesir kencang. Ujung penisku betul-betul ngilu, hangat, geli dan perasaan birahi bercampur jadi satu disana. Lisa lantas membuka kancing kemeja Hawai-ku dan mundaratkan mulut indahnya di puting susu kiriku, sementara puting kanan dimainkan oleh telunjuk dan jempol kirinya.



“Aaakk.. mmhh..” desahku tidak menentu.

Aku betul-betul tidak tahan menikmati sensasi ini.

“Gila.., inilah penyelewenganku yang pertama dan dimanja oleh dua orang wanita sekaligus..” bisikku dalam hati.

Aku semakin tidak tahan saja, lalu kurengkuh leher Lisa dan kudekatkan bibirku, kujulurkan lidahku menyapu seluruh rongga mulutnya dan sesekali kuhisap dalam-dalam bibir bawahnya yang sangaat menawan itu. Ini karena
jujur saja, aku lebih bergairah dengan Tante Lisa, meskipun sudah hampir mencapai kepala 4 itu (dalam perbincangan kami, akhirnya aku tahu juga umur Lisa, meskipun tidak pasti segitu bahkan bisa lebih).

Badanku lantas kumiringkan dan bersandar pada sofa.

Bukit indah Tante Lisa adalah tujuanku dan benar saja, berapa saat kemudian, “Oookkhh.. Nimaatthh.. Sayy.. seddootthh.. terruusshh..” desah Lisa terengah-engah.

Sedotanku kukombinasikan dengan pelintiran jempol dan telunjuk kiriku, sesekali kuputar-putar putingnya dengan telapak tanganku.

“Ssshh.. terusshh.. Sayy..” Lisa mendesis seperti ular.

Tiba-tiba, “Teett..,” suara bel mengejutkan kami, pertanda sepuluh menit lagi akan berakhir.

Aku melihat Adi dan Eko tersandar kelelahan, dan kulihat ada sisa sperma menentes dari ujung penis-nya yang mulai mengkerut.

“Udahan dulu ya Tante.., In..,” pintaku pada mereka.
“Emmhh.. Oke..” jawab mereka dengan nada sedikit keberatan.

Kami pun turun, aku berpisah dengan Adi dan Eko, entah kemana mereka melanjutkan petualangan birahinya. Dan kami pun sudah masuk ke Civic Lisa.

“Kemana Kita nich..?” tanyaku sok bloon seraya menghidupkan mesin.
“Kita lanjutin di hotel yuk Ke..!” ajak Tanta Lisa kepada Inneke.
“Baik Tan.. Kita ke hotel **** (edited) yang punya /whirpool/ di kamarnya.” sahut Inneke.

Rupanya Tante Lisa adalah seorang eksekutif, karena itu ia pesan salah satu President Suit Room yang mana seumur-umur aku baru mesuk ke dalamnya. Kamarnya luas, kurang lebih 6 x 8 meter, beralaskan permadani coklat muda kembang-kembang dan dilengkapi /whirpool/ yang menghadap ke arah kehijauan lembah. Kamar itu juga mempunyai sofa panjang di sebelah /whirpool/.

Begitu masuk, Tante Lisa lalu mengunci pintu, aku dan Inneke mengambil tempat duduk di sofa sebelah /whirpool/. Aku melingkarkan lenganku ke pundak Inneke, alunan musik malam pun semakin menambah romantis suasana.

“Inn..” bisikku mesra kepada Inneke mengawali percumbuanku.

Inneke yang sudah /on/ berat itu langsung menyambut kecupanku, nafasnya terengah-engah, menandakan bahwa dia sangat menginginkan kehangatan, kenikmatan dan mengisi kekosongan ruang vaginanya yang terasa menggelitik dan lembab. Dengan sedikit tergesa, aku melepas CD-nya, lalu kurebahkan kepalanya di sandaran sisi sofa dan keletakkan pinggulnya tepat diselangkanganku.

“Sreett..” penisku mulai bereaksi saat pantatnya yang dingin menyentuh /Lee Cooper/-ku dan kulihat Inneke terpejam, sementara tangannya membetulkan rambutnya yang tergerai di sofa.

Aku mulai memainkan jari telunjukku di bibir luar vaginanya yang sudah mulai melelehkan cairan bening dari hulunya. Tidak ketinggalan, bibirku menghisap dalam-dalam dan sesekali kujepit putingnya dengan kedua bibirku lalu kutarik-tarik, sesekali kupilin-pilin dengan kedua bibirku.

“Wuuaahh.. sshh.. terusshh.. nikkmatthh..” desah Inneke keras-keras saat kuperlakukan seperti itu.

Tubuhnya kejang panas dan seluruh aliran darahnya kini memuncak. Sengaja aku tidak memasukkan telunjukku, karena untuk menstimulasi lebih intens lagi. Kami bercumbu dan sudah tidak ingat lagi apa yang dilakukan Lisa di kamar mandi yang begitu lama.

“Bentar Inn.., Aku pispot dulu yach..?” kataku sambil melepaskan cumbuanku.
“Emmhh..” desah Inneke sedikit kesal.
Akan tetapi, aku melihat Inneke melanjutkan birahinya dengan dua jari.

Aku sendiri berlari kecil menuju ke kamar kecil dan sesampai di pintu, aku kaget karena mendapati Tante Lisa lagi meregang orgasmenya.

“Aaakkhh.. sshh.. sshh..” desah Tante Lisa, matanya mendelik merem melek.

Tampaknya vibrator mutiara itu masih bekerja, sehingga saat aku kencing, Lisa pun tidak melihatku.

“Boyy..” sebuah panggilan lembut mengagetkan aku saat hendak meninggalkan kamar mandi itu.
“I.. ii.. yaa.. Tan..?” sahutku agak kaget.
“Sini doongg..! Hangatin vagina Lisa dengan penis Kamu yang.., ookkhh..”

Tante Lisa terpekik saat vibrator itu ia cabut dari liang vaginanya.

Aku hampiri Tante Lisa di Bath tub itu dan aku baringkan tubuhku disana.

“Oh.., nikmat sekali mandi air hangat dikelonin tante seksi ini.” bisikku dalam hati.

Aku rengkuh lehernya dan kuberikan /french kiss/ yang begitu mesra dan Tante Lisa pun membalas dengan ganas seluruh rongga mulutku, leher dan kadang puting susuku di hisapnya. Penisku yang terendam kehangatan air itu semakin maksimal saja. Selama tiga menit kami bercumbu, Tante Lisa nampaknya tidak dapat mengendalikan nafsunya.

“Mmmpphh.. ookkhh.. setubuhi aku Boy..! Cepeetthh..!” pinta Tante lisa sambil menggeliat seperti cacing kepanasan.
“Baik.. Liss.. Terima penisku yang panjaangg..” bisikku sambil memasukkan seluruh batang penisku pelan sekali.
“Oohh.. mmpphh.. nikmatthh..” gumannya saat batang kejantananku mili per mili mulai menjejali rongga rahimnya.
“Kocokkhh.. yaacchh.. terusshh.. aakhh.. nimat bangeetthh..!” serunya ketika aku mulai mengosok-gosok pelan penisku.



Aku keluarkan kira-kira empat senti, lalu kukocok lima atau enam kali dengan cepat dan kusodokkan dalam-dalam pada kocokan ke tujuh. Rupanya usahaku tidak sia-sia untuk menstimulasi /G-spot/-nya.

“Aaakkhh.. oohh.. nimatthhnyaa.. ookkhh Godd..!” teriaknya mengawali detik-detik orgasmenya.

Sepuluh detik kemudian, “Nngghh.. aakkhh.. sshhff.. ookkhh.. Boyy.. kocokk.. lebih intens lagi Yannk..!” jerit Tante Lisa diiringi geliat liar tubuh indahnya.

Payudaranya diremas-remasnya sendiri, sementara aku tetap berpegangan pada sisi /bathtub/ sambil mengocok lembut vaginanya.

“Akkhh..” teriakku pelan saat Tante Lisa menggigit pundakku karena aku masih saja mengocok penisku di vaginanya.

Rupanya Lisa sudah mulai ngilu.

Aku memeras tegang otot lenganku dan Tante Lisa sepertinya minta /time out/ untuk mengatur nafas dan menghilangkan kengiluan di liang sengamanya. Aku meraih lehernya, lalu aku berdiri pada dua lututku dan
Tante Lisa diam mengikuti apa yang akan kulakukan. Aku memondong Lisa dan tetap menjaga penisku tertanam dalam-dalam di vagina Tante Lisa yang mengapit kedua tungakainya ke pinggangku. Kami menghampiri Inneke yang juga lagi meregang orgasmenya dan Inneke tampaknya lebih liar dari pada Lisa, mungkin karena pengaruh XTC dan suasana yang penuh hawa birahi itu.

“Aaaookkhh.. sshh.. aakkhh.. aakkhh..” jerit Inneke keras sambil menghujam-hujamkan kedua jari kanannya.

Sementara tangan kirinya meremas dan memilin payudaranya dan sesekali ditekan serta diputar. Aku terkesima sejenak dengan pemandangan yang diciptakan Inneke itu dan aku mebayangkan akan lebih histeris lagi pasti
jika yang keluar masuk itu adalah 15 cm penis kebanggaanku.

“Booyy.. ayyook terusinn..!” pinta Tante Lisa diiringi goyangan lembut pinggulnya.

Ia tampaknya mulai bergairah kembali setelah melihat Inneke yang begitu histeris dan aku pun demikian ketika penisku hampir mengendor di Vagina Lisa. Aku maju selangkah dan mendudukkan Tante Lisa dari arah belakang
sofa. Aku sendiri mengambil posisi berdiri untuk memudahkan eksplorasiku. Di lain pihak, Inneke yang sudah mengakhiri masturbasinya itu mengetahui kehadirna kami dan mengambil tempat di belakang Tante Lisa.

“Ookkhh.. Terusin Kee..!” pinta Tante Lisa saat Inneke menyibakkan rambutnya dan mulai mencumbui leher Tante Lisa.

Tidak ketinggalan, kedua telapak tangan Inneke menggoyang, memutar puting dan kadang-kadang dipilin lembut.

Aku sepertinya merasakan apa yang Tante Lisa rasakan, darahnya mulai hangat, birahinya sudah memanas.

Tubuh lisa bagaikan daging /burger/ di antara aku dan Inneke, pinggulnya masih aktif menggoyang-goyang, kadang menghentak-hentak lembut.

“Oooaakkhh.. nngghh.. ohh.. nngghh.. Kocok terushh.. yaa.. iyaa.. teruss..!” desah Tante Lisa keras saat aku tepat menstimulasi /G-Spot/-nya.

Nafasnya tersengal-sengal disela-sela lenguhan-lenguhan panjangnya, tubuh Tante Lisa menggeliat-geliat liar.

Inneke masih aktif membantu Tante Lisa menggapai surgawinya, kecupan-kecupan di belakang tubuh, leher, pinggang dan tiba-tiba Tante Lisa melenguh panjang diiringi percepatan hentakan pinggulnya. Aku semakin penasaran saja apakah yang dilakukan Inneke hingga Tante Lisa tampak lebih histeris lagi dari yang tadi. Kuraba raba punggung Lisa sambil kukulum mesra bibirnya, tanganku mulai turun ke arah pantatnya, kutekan kedua sisi bokongnya yang padat itu dan kuulir-ulir. Berawal dari situlah aku tahu rupanya telunjuk dan bibir Inneke memainkan peran di lubang anus Tante Lisa, telunjuknya yang berlumur vaselin itu keluar masuk lembut di vagina Tante Lisa.

“Oookkhhghh.. Goddhh.. Ke.. truuss.. Yanng.. ookkhh, kontholl.. akkhh.. sshh..” ceracau Tante Lisa tidak beraturan, menjemput ambang orgasmenya.

Kedua lubang Tante Lisa terasa pejal dan hangat. Aku malah semakin terangsang oleh imajinasiku sendiri, aku lantas memeluk erat-erat Tante Lisa saat ia mulai mengencangkan lingkaran tangannya di tubuhku. Darahku juga mulai bergerak cepat menuju ke ujung syaraf di kepalaku, kupingku tidak lagi menghiraukan lenguhan dan desahan-desahan Tante Lisa.

“Oookkhh.. Lisshh.. nikmathh.. vaginamu.. Akkhh..!” desahku saat birahiku kurasakan menjalar di seluruh tubuhku.
“Booyy.. Akuu.. mmhh.. mauu..” seru Tante Lisa menyambut orgasmenya.

Tubuhnya menegang, wajahnya merah merona, menambah cantiknya Tante kesepian ini, sementara bibirnya terkatup rapat.

“Sssebentar.. Liss.. Kita keluar bareng..” bisikku yang kuiringi tempo kocokanku secara maksimal, yaitu kukeluarkan hampir sepanjang batangnya dan kubenamkan dalam-dalam di rahimnya.



Rupanya darahku tidak bertahan lama di syaraf-syarafku, hingga berdesir kencang meluncur melalui seluruh nadiku dan bermuara pada sebuah daging pejal di selangkanganku.

“Liss.. Aku nyammppaaii.. uuaakkhh.. aakkhh.., aakhh..,” desahku sambi memutar-mutar penisku yang tertanam maksimal di vagina Tante Lisa, sehingga rambut-rambutku yang disana juga menggelitik klitoris Tante Lisa.
“Sseerr.. serr..” kurasakan cairan Tante Lisa mendahului orgasmeku, dan seditik kemudian, aku dan Lisa meregang nikmat.

Kami menjerit-jerit sensasional dan tidak khawatir orang lain mendengarnya. Tante Lisa histeris seperti orang kesetanan ketika telunjuk Inneke juga mempercepat kocokan di anusnya.

“Aaakkhhggh..” desah kami bersamaan mengakhiri nikmat yang tiada tara tadi dan juga baru kurasakan seumur hidupku.

Maniku meleleh di sela-sela pejalnya bnatang kejantananku yang masih manancap dalam di rahim Tante Lisa. Inneke tampaknya puas dengan hasil kerjanya, lalu ia memeluk Tante Lisa erat dan berbisik, “Enak khan Tann..?”

Tante Lisa sendiri sudah lemas dan terkulai di atara aku dan Inneke, aku mengecup mesra Tante Lisa dan beralih kepada Inneke untuk memberikan stimulan birahi dalam dirinya yang juga mulai mendidih.

Kedua wanita itu memang hebat, yang tua histeris dan mampu menguasai diri dan yang muda histeris juga dan menuruti jiwa mudanya yang bergejolak. Tante Lisa tampaknya tidak dapat menahan rasa di tubuhnya, sehingga lunglai lemas tidak bertenaga. Inneke lantas membimbingnya melepas gigitan vaginanya dari penisku yang mulai mengendor ke arah ujung sofa untuk beristirahat. Kulihat wajah Tante Lisa amat puas bercampur dengan letih, akan tetapi semua beban birahinya yang tertahan selama dua minggu meledak lah sudah.

“Oookkhh.. sshh..” desis Tante Lisa saat penisku kutarik pelan dari gigitan vaginanya.

Aku melangkahi sofa dan duduk di sandarannya, lalu kubuka kedua pahaku.

Tampaklah oleh Inneke sebuah /meriam/ yang berlumur sperma masih setengah tegak.

“Oookkhh.. gellii.. sshh.. teruss.. Kee..!” pintaku pada Inneke saat ia mulai mengulum penisku dan hampir semuanya terkulum di mulutnya yang sedikit lebar namun seksi.
“Oaakhh.. aakkhh.. sshhsshshh..” desisku saat aku mulai merasakan lagi
denyutan penisku di mulutnya.

Inneke masih menghisap habis seluruh sperma yang tersisa dan kocokkannya semakin cepat, hingga kedua kakiku bergetar menahan ngilu bercampur nikmat.

“Oookkhh.. teruss.. hisapphh Sayy..!” pintaku sambil mendorong kepala Inneke untuk melakukan lebih dalam lagi.
“Ooouakghh.. Plop..” tiba-tiba mulut Inneke melepas kulumannya dan langsung berdiri menjilat leher dan kedua telingaku bergantian.
“Aku ingin di /whirpool/ Sayy..!” bisik Inneke.

/Whirpool/ itu sendiri sudah dilengkapi semacam sofa untuk berbaring, sehingga jika berbaring di situ, maka mulai dada sampai kaki akan terendam air hangat bercampur semburan air di sisi-sisi kolamnya. Aku merebahkan Inneke disana dan memulai percumbuan kami, tubuh kami terasa hangat dan seperti di pijat-pijat, sehingga penisku yang sempat layu mulai menegang kembali. Inneke tampak menikmati sensasi ini dan aku tahu bahwa Inneke akan menginginkan /melodi/ yang berbeda dengan Lisa.

“Mass.. sshh.. ookkhh.. masukin Aku.. ookkhh.. mmpphh..” pinta Inneke sambil membuka pahanya lebar-lebar.

Sejenak aku memainkan kehangatan air, kuayun-ayun tanganku di dalam air ke arah vagina Inneke yang membuatnya segera menarik tubuhku untuk menaikinya. Kami memang sudah diselimuti nafsu sehingga rasanya
pemanasan Inneke melihat orgasme dari Tante Lisa sudah lebih dari cukup. Tubuh kami hangat oleh air dan kehangatan dari pasangan kami serta semburan-semburan air dari sela-sela kolam membuat kami semakin terbuai
jauh ke awang-awang.

“Bless..” 10 cm dari penisku mulai menjejali vagina Ineke diiringi desahan, “Aaakkhh.. mmpph..” guman Inneke yang membuat Tante Lisa tersadar dan menyusul kami di kolam.

Kuhentakkan pelan, sehingga seluruh penisku mendesak dinding-dinding vaginanya yang terasa lebih perat dan berdenyut. Lisa mengambil posisi memangku kepala Inneke di paha kanannya dan membelai lembut kening Inneke.

“Aaawww.. ookkhh.. gelli.. Massh..” teriak Inneke saat aku memainkan otot lelakiku di leher rahimnya.
“Mass.. dikocok pelaann.. yacch..!” pintanya sambil membelai rambutku, membuatku jadi teringat saat-saat romantis dengan pacar-pacarku dulu.

Aku mengangguk dan kuikuti apa yang Inneke mau, lalu kukocok perlahan dengan cara sepuluh senti aku kocok lima atau enam kali dan kubenamkan dalam-dalam, lalu kuputar pada kocokan ke-7. Cara ini efektif untuk menstimulasi /G-Spot/ seorang wanita. Kurang lebih lima menit kemudian, Inneke mengangkat kepalanya dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi di mulut dan leherku bergantian. Tubuhnya sedikit menegang dan lebih hangat
kurasa, lalu aku memberi isyarat Tante Lisa untuk menyingkir ke arah bagian belakang kami.

“Oookhh.. Masshh.. aakuu.. hammppirr..!” bisik Inneke saat aku mulai menaikkan ritme kocokanku.
“Tahan Ke..!” pintaku, lalu aku memberi isyarat kepada Tante Lisa lagi.
“Akkhhgghh.. sshh.. mmpphh..” desahku dan Inneke bersamaan saat telunjuk

Tante Lisa mulai memasuki lubang pantatku dan anusnya Inneke.

Rasanya hangat mengelitik, apalagi jika di kocokkan di kedalaman anusku dan aku bisa membayangkan sensasi yang dialami Inneke. Pasti akan terasa pejal dan nikmat serta sensasional pada kedua lubangnya.

“Oookkhh.. Taan.. aakk.. kuu tak kuu..atthh..” teriak Inneke mulai mengawali detik-detik orgasmenya.
Para netters yang budiman, sudah bisa diduga, kami pun terbuai dengan alunan sensai jari Tante Lisa dan hisapan vagina Inneke bersamaan.
Demikian pula Inneke. Panasnya penisku dan gelitik telunjuk Tante Lisa membuatnya lupa daratan.
“Aaagghh.. ookkhh.. ookkhh.. aakkhhg.. mm.. sshshh.. awww.. sshh..” ceracauku dan Inneke tidak beraturan.



Dan kurang lebih sepuluh detik kemudian, aku dan Inneke meregang birahi yang dikenal dengan nama orgasmus secara bersamaan. Aku memancarkan spermaku. Terasa lebih banyak dari pada dengan Tante Lisa dan aku juga merasakan aliran mani Inneke dari rahimnya. Aku menghempaskan tubuhku ke samping Inneke dan Tante Lisa mengambil tempat di sisi lainnya. Hangat tubuh mereka dan kami becumbu seolah tiada hari esok. Kami lanjutkan tidur mesra diapit dua tubuh sintal nan hangat berselimutkan sutra lembut. Dan saat salah satu dari kami terjaga, kami mengulanginya lagi hingga spermaku betul-betul terasa kering.

Minggu siang, kami baru terbangun, lantas kami mandi bersama dan kemudian sarapan pagi. Kami meluncur ke Surabaya dan janji akan kencan lagi entah dengan Tante Lisa ataupun Inneke atau kadang mereka minta barengan lagi. Aku akhirnya terlibat kisah asmara yang penuh birahi, namun aku puas karena dapat melampiaskan nafsuku yang meletup-letup itu. Beberapa kali aku ditawari dan berkencan dengan teman Tante Lisa dan kadang ada yang aku tolak, karena prinsipku bukan jual cinta seperti gigolo, akan tetapi sebuah prinsip petualangan.

Cerita Dewasa Mahasiswi Bisyar

Cerita Dewasa Mahasiswi Bisyar Beberapa bulan lalu aku dapet tugas ke luar daerah. Tepatnya didaerah pinggiran timur kota Bandung. Agar ngirit, kutelepon keponakanku yg kuliah didaerah tersebut. How lucky me, ia bersedia menampungku untuk beberapa hari.




Singkat cerita, sampailah aku di daerah J*******r, daerah pinggiran Bandung yang terkenal dengan kawasan perguruan tinggi. Kostan keponakanku terletak agak dalam, sehingga aku perlu menyewa ojek untuk sampai kesana. Sesampainya di kostan keponakanku, aku lsg disambut dgn senyum yang ramah dari pengurus kos. “Ooh ini mamangnya Ryan ya (nama samaran keponakanku)?, jam berpa dari Jakarta?”


Rupanya keponakanku sudah melaporkan kedatanganku kepada pengurus kos tersebut. “Tadi pak jam 8 pagi” jawabku. “mangga kita masuk kedalam, saya antar ke kamarnya Ryan. Ryan sedang pergi ke tempat kawannya katanya sih mau persiapan Kuliah Lapangan.” Hmmm nyaman juga disini, pikirku. Lantas sesampainya di kamar ryan aku langsung merebahkan tubuhku di ranjang yg hanya cukup untuk sendiri. Tak lama aku pun tertidur karena lelah.

Ketika aku terbangun, jam menunjukkan pukul setengah 4. Ryan belum pulang juga. Iseng aku keluar kamar untuk membeli rokok. Ketika keluar, aku berpapasan dgn beberapa org mahasiswi yg baru pulang kuliah. Dengan lirikan mata nakal kucobna menikmati pemandangan didepanku. Rupanya kostan ini bercampur antara penghuni laki2 dengan penghuni perempuan.

Sepulang membeli rokok aku langsung mandi dan menelpon Ryan. Dari seberang ia memberitahukan aku bahwa dia tidak pulang malam ini karena tugas persiapan Kuliah Lapangannya masih belum lengkap sehingga ia perlu melengkapiny malam ini jg.

Setelah aku mandi, aku duduk-duduk di teras kamar Ryan sambil menikmati kopi dan rokok. Tiba tiba aku terkejut dengan sapaan lembut seorang perempuan, “Ryannya kemana om?” Seorang mahasiswi dengan celana pendek hanya sekitar 5 cm dari pangkal pahanya menegurku. Kulitnya putih mulus dan hanya mengenakan kaus yukensi berwarna kuning.

“Eh Ryan masih di Soreang, lg beresin Tugas Kuliah Lapangannya. Mbak siapa ya?” . “Saya Reni, temen satu Jurusan Ryan. Tadinya mau pinjem buku Manajemen Organisasinya”. “Coba aja cari di dalam” jawabku. “Saya masuk ya Om, abis ada tugas yg penting nih, besok harus dikumpulkan” katanya.

Ketika Reni masuk kamar, aku mengikutinya sambil terus menikmati lekuk tubuhnya dari belakang. Pantatnya yg bulat berisi meliuk liuk didepanku. Dadanya jg lumayan besar sehingga sedikit membusung. Dan pemandangan ini cukup membuat si adek sedikit bergerak.

“Coba aja cari di rak bukunya Mbak, kali aja ada jawabku sambil mengambil tempat duduk di tepi ranjang agar aku dapat memandangi dada Reni dengan leluasa. Saking terpananya, aku tak sadar Reni telah menemukan buku yg ia cari, ia pun memergoki aku sedang melongo menatap dadanya.

“Om, bukunya dah ketemu, ngapain sih om bengong begitu?” “eh ….anu … nggg. kalo udah ketemu yaaaa…. bagus deh…” jawabku gelagapan sambil berusaha berdiri sambil menyembunyikan tonjolan di balik celana pendekku. “heheheh…. om kenapa bongkok begitu, malu ya ada yg berdiri!” kata Reni sekenanya. Aku pun semakin malu dan semakin terpojok. “Eh, nggak kok… pegel kelamaan duduk di bis” Padahal Jakarta Bandung hanya ditempuh 2 jam……

“Ya udah om, Reni ke kamar dulu. Nanti klo udah selesai reni pulangin deh secepatnya”. “Oke deh … saya juga mau tiduran dulu. CApek” . “oke om, met istirahat ya…”

Sepeninggal Reni, kepalaku dipenuhi dgn pikiran yg ngawur. Aku membayangkan dapat meremas toketnya yg bulat dan menjilati selangkangannya yg mulus. Tak tahan dengan keadaan pikiranku, lantas aku tiduran dan mulai melorotkan celana pendekku dan akupun melakukan onani sambil membayangkan Reni sedang bercumbu denganku. Hampir lima menit aku onani, tiba-tiba pintu kamar terbuka karena aku tidak menguncinya terlebih dahulu. Reni terpekik kecil ketika melihat aku sedang terlentang sambil onani.

“Aw, si om ngapain!!!…” serasa ditimpa balok beton aku terkejut setenga mampus dalam keadaan setengah bugil. ” mmmh anu, ngak kok, cuma, itu anu… ini nih gatel ada semut masuk kali!” ujarku sambil berusaha menaikan celana pendeku. “hahaha si om kangen kali sama istrinya ya?, om aku cm mau ngambil ini, pulpen aku ketinggalan katanya.

“Om, gede juga hihihihi…” katanya meledek aku. Aku benar-benar mati kutu. ga tau mau ngapain atau ngomong apa, cuma garuk garuk kepala saja. Kurang ajar ni cewe…. awas kamu pikirku. ketika ia mengambil pulpennya, kaki Reni menginjak sepatuku yang kusimpan d bawah rak buku rendi sehingga ia terpeleset dan jatuh menimpa tubuhku. aku segera menolong dia bangun, dan ketika aku tolong dia wajah kami hampir beradu.

Tak tahan lagi kucoba mencium bibirnya, dan dia membalas!!! GOD, ini kesempatan~!!!! cuma sekitar semenit kami saling mengulum bibir, tiba-tiba ia mendorong aku alau ia berdiri dan berbisik ” Om kalo mau nanti malem aja Reni kesini”. Huaaaaaaaaa…… ngimpi apa aku semalam!!!! hampir meldak dadaku kegirangan!!! nggak sabar rasanya menunggu malam.

Jam 10 malam aku ga bisa tidur karena aku sedang menunggu Reni datang. Ga lama ada suara ketukan kecil dan langsung aku terbang menuju pintu untuk membukanya. “Reni nepatin janji kan Om, kebetulan si mamang lagi ada rapat d RT. Jadi ga ada yg keliling kamar.



” kata Reni nyerocos sambil masuk dan menutup pintu. Tak lupa aku langsung menguncinya. “Om bagi rokoknya ya, punya aku ketinggalan di kamar!” katanya sambil menyambar sebatang rokok mild kepunyaanku. “gapapa pake aja!” sahutku. Setelah membakar rokok, tanpa diminta ia menceritakan tentang Rendi, kegiatan di kampus bla bla bla….. Duuuuuh ni cewe, udah tau adek gua udang nendang-nendang ia malah cerita ngalor ngidul. Tapi aku sedikit menahan diri agar tidak terkesan napsu. Padahal mah …….

“eh Om, udah punya istri khan?” ” udah, tapi kan ga diajak, Reni mau ga jadi istri om buat sementara?” ” Tergantung om” Tergantung apa?” desakku “Tergantung om mau bayar berapa?” Jiaaah gua kira gratis, tapi gapapa lah yg penting lendir mengalir pikirku daripada maen perkosa mending mahasiwi bisyar hehe. “emang rate kamu berapa?”

“Buat om aku kasih 300 deh ampe pagi. Biasanya sih 700 sampe 1 juta om klo sampe pagi, tapi waktu Reni liat punya om tadi Reni kasih diskon gede-gedean deh!!!” waduh kaya obral mall akhir taun aja. Aku nggak menyahut, malah aku dekati wajahnya dan langsung aku lumat bibirnya yg sedikit tebal tapi seksi. “mmmmmhh, hmmmmm…..!” Reni hanya bergumam seperti itu saat kulumat bibirnya.

Tangannya pun meraih tanganku agar meremas payudaranya. Sementara sebelah tanganku lagi mengusap-usap pahanya yang mulus. Tak tau kapan, tiba tiba tangan Reni sudah mengusap usap penisku dari luar celana pendeku. Penis yg sudah menegang dari tadi sore langsung mencuat mengacung sehingga menekan perutnya.

Tiba tiba reni terkikik dan melepaskan ciumannya. “Ada yg udah ga sabar ya Om?” “Iya nih kataku sambil melorotkan celana pendekku. Sementara aku melepas celana pendeku, Reni melepaskan pula celana pendeknya, ASTAGA dia memang udah niat, dia ga pake CD. lalu ia pun melepas kaos yukensinya dan meminta aku melepas kaitan Branya. Saat aku lepas kaitan branya, aku mulai menciumi leher belakang dan sekitar ketiak nya, ooooomm aaaahhh… sssshhh…. mmmm… ia kembali berdesah.

dan sumpah mati, desahannya membuat aku semakin terangsang dan segera membalikan badannya dan langsung kusergap toketnya yg bulat dan kenyal. ouh …. ommmm… shhhhh ahhhh katanya sambil bergelinjang geli campur nikmat. Tiba tiba badanku didorong dan ia berjongkok lalu meraih penisku. Dalam sekejap penisku sudah masuk seluruhnya dalam mulutnya yg agak lebar. oooohhh… shhh… mmmm…. ennnnakkk Ren, gantian aku yg mendesah.

Ia terus mengocok penisku dengan mulutnya. sekiar 3 menit ia lakukan BJ. lalu aku angkat badannya ke tempat tidur. langsung aku renggangkan kedua belah kakinya dan aku sergap belahan vaginanya yng merah merekah dan tembem, kujilati permukaan vaginanya dengan rakus sambil sesekali mempermainkan klitorisnya. Reni pun bergelinjang gelinjang penuh nikmat diatas ranjang. tiba-tiba ia duduk dan memeluku erat-erat. Wah muncrat ni bocah, pikirku.Aaaaaaaaaaahhhhhhhhhh…… oooooooommmm sihhhhhh……. lalu terasa ada cairan hangat membasahi perutku.

Tanpa basa basi kutidurkan dia di kasur dan langsung kutancap memeknya dengan ganas. plak plok plak plok kecrot kecrot suara penis dan vagina yg beradu semakin menambah sensasi dan fantasi seksku dengan Reni. 5 menit kami melakukan MOT dan ku balikan badannya. SHAGGY STYLE. ini posisi favoritku, tak menunggu lama langsung kutancap lagi kontolku kedalam liang rahim Reni dan langsung menggenjotnya dengan rakus. aaaahhhh… ahhhh…aaaahhhh… ooohh… mmmmhhh…. uaaahhhh…ssshhhhh…enak om katanya. 5 menit melakukan shaggy, terasa maniku mau keluar.

Tapi Reni malah menggoyang terus pantatnya sehinga kontolku semakin linu dan ingin segra memuncratkan lava kemikmatanku.”Ren….aku mau kluar,” “aaaah…tahan dulu ommm. reni blom sampe…” tapi gara2 Reni terus menggoyang tak tahan lagi kusodokkan kontolku semakin kedalam dan…… aaaaaahhhhhh…… entah berapa liter yang kusemprotkan kedalam ememk Reni…

Aku pun terduduk lemas, sambil berusaha mengatur napas. Reni tampak kecewa dan ia mengambil handuk yg ada di belakang pintu kamar dan ia mengelapi kontolku yang basah karena cairan vagianya dan spermaku. Setelah keriang ia lalu mengisap isap lagi kontolku dengan ganas sehingga dalam tempo yang sesingkat-singkatnya penisku tegak lagi dan siap untuk bertempur lagi. kami terus bertempur sampai jam 4 pagi dan terlelap karna kecapean.

Pagi hari aku terbangun karena terasa ada yang geli di penisku. Ternyata reni sedang mengulum penis ku. tak berapa lama ia pun menaiki tubuhku dan kami kembali bersetubuh sampai jam setengah delapan pagi. setelah mandi dan berpakaian, kuambil dompet dan menarik lima lembar uang seratus ribuan lalu kuserahkan pada Reni.

“Reni berubah pikiran om, kali ini Reni kasih gratis aja, asal om mau kasih Reni kaya semalam selama om disini dan Ryan blm pulang.” “Oke sayang, kataku sambil berteriak girang dalam hati. “Om seminggu disini dan semoga tugas Ryan ga bere-beres”. “Ih si om, bukannya do’ain yg bener!”.



Selama 5 hari, selepas melaksanakan tugas kantor, aku selalu bersetubuh dengan Reni. dan ketika hari keenam Ryan pulang dan kami masih melakukannya di kamr REni. Dengan segudang alasan tentunya kepada kepnakanku.

Nah agan-agan sekalian, demikianlah pengalaman seks ku dengan mahasiswi bisyar yang bernama reni, bener bener seru deh

Video Hot Bokep Kakak yang begitu menggoda adiknya

Video Hot Bokep Kakak yang begitu menggoda adiknya Nonton Video Bokep Lainnya :  Video Hot Bokep Jepang Yukina Saeki Video Hot Bok...